Kintakun-bedcover.co.id – Penyakit jantung menjadi pembunuh nomor 1 pria dan wanita di Amerika Serikat, dimana ada 610 ribu orang Amerika meninggal setiap tahun. Selama ini, faktor risiko penyebab penyakit jantung yang sudah diketahui masyarakat meliputi tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok, kelebihan berat badan, dan kurang berolahraga.
penyakit jantung Berita_wanita_Kintakun_collection | Jumlah Anak Pengaruhi Risiko Terkena Penyakit Jantung
(Foto: Time)

Namun faktanya, ada beberapa faktor yang mungkin terdengar aneh, yang memengaruhi risiko terjadinya penyakit jantung.

1. Tinggal di dataran rendah

Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Frontiers in Psychology menemukan bahwa orang yang tinggal di dataran tinggi, sekitar 457-2.297 meter memiliki peluang lebih kecil untuk mengalami sindrom metabolik-cluster, pemicu faktor risiko jantung seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas.

“Kadar oksigen yang lebih rendah pada dataran tinggi membuat fungsi jantung dan paru-paru menjadi lebih efisien,” jelas Mary Ann Bauman, MD, juru bicara American Heart Association seperti dilansir Time. Ini korelasi yang menarik, kata dia. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menguatkan pendapat ini.

2. Jumlah anak

Wanita yang hamil lebih dari sekali memiliki peningkatan risiko untuk mengembangkan fibrilasi atrium, demikian menurut studi yang dimuat dalam Jurnal Circulation. Fibrilasi atrium membuat detak jantung tidak teratur dan memicu pembekuan darah, stroke, dan komplikasi lainnya. Dalam studi tersebut, wanita yang pernah hamil empat kali atau lebih memiliki risiko 30 hingga 50 persen untuk mengembangkan penyakit tersebut.

“Selama kehamilam jantung akan bertambah besar, ada perubahan hormonal dan sistem kekebalan tubuh. Perubahan ini yang mungkin berkontribusi menyebabkan penyakit jantung,” kata Bauman.

3. Melahirkan prematur

Studi terbaru yang juga dimuat dalam Jurnal Circulation menemukan hubungan antara penyakit jantung dan melahirkan prematur, yakni memiliki risiko 40 persen untuk mengembangkan penyakit kardiovaskular.

4. Melewatkan sarapan

Orang yang secara teratur sarapan cenderung memiliki peluang yang kecil untuk menderita penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi, demikian pernyataan American Heart Association. “Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa sarapan penting untuk kesehatan jantung. Dan ketika Anda melewatkannya, risiko diabetes, kolesterol tinggi, dan kenaikan berat badan akan mengalami peningkatan,” kata Bauman.

5. Vaping

Rokok elektrik dianggap lebih aman dari rokok konvensional. Namun, sebuah editorial yang dimuat JAMA mencatat bahwa rokok eletrik mengandung bahan kimia seperti formalin dan aseton yang dapat memengaruhi regulasi tekanan darah, meningkatkan pembekuan darah, dan mempercepat pembekuan plak di arteri.

Plus, kata Bauman, rokok elektrik juga mengandung nikotin. “Nikotin adalah stimulan yang meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah,” kata dia.

6. Minder karena gemuk

Seberapa baik Anda menerima tubuh Anda ternyata tak hanya berpengaruh pada kesehatan psikologis. Dalam penelitian yang dimuat dalam Jurnal Obesity dijelaskan bahwa wanita gemuk yang di cap dengan stereotip negatif memiliki peluang tinggi untuk mengembangkan sindrom metabolik.

7. Nyeri bahu

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Occupational and Environmental Medicine menyebutkan, nyeri pada bahu bisa menjadi sinyal penyakit jantung. Para peneliti belum menemukan korelasi antara nyeri bahu dan penyakit jantung. Namun, mereka mengklaim nyeri terjadi akibat tekanan darah yang tinggi.

Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa orang yang menderita carpal tunnel syndrome, Achilles tendonitis, dan tennis elbow juga memiliki peningkatan risiko penyakit jantung.

8. Tingkat Pendidikan

Penelitian di Australia menunjukkan bahwa mereka yang memiliki latar pendidikan yang baik memiliki peluang yang relatif kecil untuk menderita penyakit jantung. Pendidikan tinggi dikaitkan dengan pengelolaan emosi yang lebih baik, dan pemilihan makanan yang jauh lebih sehat.

9. Stres

Saat stres, area amigdala di otak menjadi aktif. Semakin banyak yang aktif, maka memicu peradangan di arteri. Para ahli sebelumnya telah menduga bahwa stres dapat meningkatkan penyakit kardiovaskular.

“Stres kronis meningkatkan pelepasan epinefrin dan adrenalin, yang kemudian memicu hipertensi,” pungkasnya.

sumber : Metrotvnewsw.com