Berita_wanita_Kintakun_collection | Stres dan Trauma Sebabkan Kerusakan pada Kemampuan Mengenali Ekspresi Wajah
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa gejala gangguan stres pasca trauma (PSTD) salah mengartikan ekspresi sedih dan marah sebagai bentuk ketakutan. (Foto: Cladandcloth)

Kintakun-Collection.co.id: Ekspresi WajahSebuah penelitian mengungkapkan bahwa remaja yang mengalami trauma dan stres cenderung memiliki gangguan kemampuan dalam hal mengenali ekspresi emosional. Hal tersebut tentunya berpengatuh pada fungsi sosial dan komunikasi dalam keseharian.

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa gejala gangguan stres pasca trauma (PSTD) salah mengartikan ekspresi sedih dan marah sebagai bentuk ketakutan.

“Penemuan kami melihat bahwa paparan trauma dan stres dapat memberi dampak emosional akut yang menyebabkan kesalahan dalam mengidentifikasi isyarat afektif yang penting,” ujar pemimpin studi Shabnam Javdani, Asisten Profesor di New York University – Steinhardt, Amerika Serikat.

Berita_wanita_Kintakun_collection | Stres dan Trauma Sebabkan Kerusakan pada Kemampuan Mengenali Ekspresi Wajah

Javdani menambahkan, ketakutan sangat berhubungan dengan pengertian PSTD, sebagai sebuah ganguang yang berhubungan dengan pertahanan hidup dari fungsi yang dikarakteristikan oleh respon terhadap suatu kejadian dan meningkatkan persepsi ancaman.

Sebaliknya, remaja yang memiliki gangguan perilaku, ditandai dengan sifat tak peduli atau agresi pada orang lain, justru lebih besar kencenderungannya salah mengidentifikasi wajah sedih, namun tidak masalah dengan mengenali ekspresi marah atau takut.

Berita_wanita_Kintakun_collection | Stres dan Trauma Sebabkan Kerusakan pada Kemampuan Mengenali Ekspresi WajahGejala gangguan berupa salah mengartikan kesedihan sebagai kemarahan, menunjukkan bahwa remaja dengan tingkat perilaku gangguan lebih tinggi tersebut tidak efektif untuk mengenali kesedihan, rasa sakit, dan penderitaan orang lain.

“Kesulitan menafsirkan ekspresi kesedihan dan salah mengidentifikasikan kesedihan sebagai kemarahan dapat berkontribusi pada gangguan afektif, empati, dan kelakuan acuh tak acuh,” terangnya.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Child dan Adolescent Health Mental tersebut memeriksa 371 remaja berusia 13-19 tahun untuk melihat dampak PSTD dan gejalan gangguan tersebut pada bagaimana anak muda yang memiliki masalah emosi dan perilaku memproses ekspresi wajah.

Menurut para peneliti, meningkatkan ketepatan dalam mengenali ekspresi wajah adalah pengobatan penting untuk dikembangkan pada anak muda yang mengalami gangguan tersebut.

(sumber : Metrotvnews.com, Jakarta)