Berita_wanita_Kintakun_collection | <i>Hoax</i> tentang Kesehatan Berakibat Fatal
Ilustrasi imunisasi. (ANTARA/Irwansyah Putra)

Metrotvnews.com, Jakarta: Berita bohong atau hoax tak hanya marak menjelang pemilu saja. Terbukti berita-berita palsu juga digulirkan untuk menyesatkan masyarakat terkait dengan kesehatan.

Salah satu hoax yang muncul dan dibantah oleh Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia adalah hoax bahwa imunisasi HPV pada anak usia sekolah dasar mengakibatkan menopause dini.

“Kemenkes sering mendapatkan hoax bahwa vaksinasi HPV mengakibatkan menopause dini. Padahal tidak ada penelitan empiris mengenai hal ini. Juga hoax bahwa HIV menular dari nyamuk, tentu ini berita yang tidak benar,” kata Kabiro Komunikasi dan Pelayanan Kementerian Kesehatan Oscar Primadi dalam dialog Newsline Metro TV, Senin (13/2/2017).

Menurut Oscar hoax tentang kesehatan sangat rentan dan berisiko apabila ditelan mentah-mentah. Dia menyarankan agar penerima informasi tak percaya begitu saja dengan berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Senada dengan yang diungkapkan Oscar, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Ilham Utama Maris meminta masyarakat memiliki filtrasi sendiri dalam menerima berita hoax tentang kesehatan.

Jika Kementerian Kesehatan sangat terbuka untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait hoax melalui website Kemenkes.go.ri dan akun twitter Kemenkes RI, IDI juga memiliki sarana yang bisa digunakan untuk mengonfirmasi kebenaran hoax yang beredar.

“Kita harus memisahkan atau melakukan filtrasi dengan baik, kalau perlu ke sumber tertentu tentang kesehatan, ke IDI. Karena kita mempunyai Badan Data dan Informatika (Badit) sebagai filtrasi berita yang disanksikan kebenarannya,” jelas Ilham.

Tak hanya hoax, sejumlah akun mengatasnamakan diri seorang dokter juga bertebaran di media sosial. Netizen dengan mudah mengakses bahkan konsultasi kesehatan dengan dokter dunia maya yang belum tentu benar-benar seorang dokter.

Untuk menghindari bertemu dan konsultasi dengan dokter gadungan di media sosial, Ilham menyarankan agar sebaiknya masyarakat mengecek keabsahan nama dokter tersebut dengan mengenal secara pribadi maupun melalui institusi.

“Kami menganjurkan bicara masalah informasi obat dan lain-lain, yang berbicara adalah dokter dari institusi formal karena tidak seluruh individu adalah dokter bisa jadi hanya biro obat,” katanya.