Kintakun-Collection.co.id- Ke Jepang saat summer? OK-lah…buat saya yang hidup di Jakarta. Paling seberapa sih panasnya dibandingkan di Jakarta? yuk kita baca pengalaman Jeannita Risakotta yang di kutip dari kompasiana.com

jepang 1 Berita_wanita_Kintakun_collection | Ke Jepang di Musim Panas? Why Not!

Pemikiran itu yang muncul di benak saya, pada saat merencanakan liburan ke Jepang yang bertepatan dengan lebaran kemarin. Pertimbangan utamanya sih “Gak perlu packing pakaian yang tebel-tebel, jadi koper bisa dipake buat isi belanjaan 🙂

Sebelumnya saya sempat browsing beberapa informasi mengenai traveling ke Jepang saat summer, beberapa yang saya catat untuk dibawa:

  • Payung, bisa digunakan pada saat panas maupun hujan. Info yang diberikan, sering kali di awal musim panas, Jepang dilanda topan mengakibatkan hujan angin
  • Pakaian yang menyerap keringat dan sepatu yang nyaman dan gampang dilepas (terutama bila mengunjungi kuil atau beberapa restoran dengan tatami seating arrangement)
  • Handuk kecil, untuk yang satu ini awalnya saya tidak paham peruntukannya. Sampai akhirnya saya tiba di Jepang dan melihat beberapa orang menggunakan handuk basah dikalungkan di leher untuk mengurangi efek dehidrasi
  • Sunblock, bahkan diwanti-wanti untuk yang SP50++

Selain hal-hal diatas, yang jelas perlu disiapkan adalah perlengkapan pribadi yang mirip saat kita travel domestik di Indonesia.

Melalui drama panjang Terjebak di bandara Denpasar akhirnya kami tiba dengan selamat di Osaka. Saat itu cuaca agak mendung namun hawa panas sangat terasa menyengat. Berbeda dengan cuaca panas di Jakarta dengan kelembapan udara tinggi, cuaca panas di Jepang terasa sangat menyengat dan kering. Pernah merasakan hawa panas kompressor AC? Nah…seperti itu gambaran panas dan keringnya cuaca di sana 🙂

Minum air yang cukup sangat disarankan untuk mencegah dehidrasi. Vending machine berbagai jenis minuman dapat diperoleh dengan mudah di Jepang. Harga rata-rata untuk air mineral sekitar ¥120, green tea dapat diperoleh dengan harga ¥160. Bahkan beberapa water tap (please choose cool water, not hot water) dapat digunakan untuk mengisi ulang botol minuman kita.

Perlengkapan perang semacam payung, topi, sunglasses dan sun block terasa sekali manfaatnya. Salah satu trick yang saya gunakan juga, apabila cuaca terlalu panas, kita bisa mampir sebentar ke salah satu department store atau stasiun untuk sekedar merasakan dinginnya AC 🙂

Puji Tuhan selama 5 hari perjalanan dari Osaka, Kyoto, Toyama, Nagoya, cuaca cukup cerah. Salah satu teman saya yang bermukim di Jepang udah wanti-wanti sebelumnya, hujan kadang-kadang turun cukup deras selama summer. Sering saya mengamati, setiap orang di Jepang hampir semua menenteng payung kemana-mana. Mungkin itu sebabnya, souvenir payung dari Jepang sangat terkenal dan disediakan di hampir semua tempat. Oh ya, satu lagi perlengkapan yang wajib dibawa mereka, Jas hujan!

Awalnya sih saya tertarik juga membeli jas hujan di sana. Koleksinya lucu-lucu! tidak seperti model jas hujan yang dijual di Indonesia. Tapi setelah dipikir-pikir, “Emang di Jakarta mau pakai jas hujan kemana sih? lha wong…kemana-mana pakai mobil, gak jalan kaki atau naik sepeda seperti di sana.” well…seandainya jalur pedestrian dan pemakai sepeda dibuat seperti di Jepang yang teratur, bersih dan bebas dari pedagang kaki lima, saya pasti memilih melakukan pola hidup sehat itu (semoga doa saya dikabulkan Ahok secepatnya).

Traveling selama musim panas di Jepang memberikan warna tersendiri bagi saya pribadi, untuk melihat dan mengamati budaya dan kebiasaan masyarakat di sana. Mereka sangat menikmati datangnya musim panas. Pekarangan sempit ditanami berbagai tanaman hias yang cantik dengan warna-warna menyolok di pot-pot mungil sangat mencuri perhatian saya. Melewati daerah pinggiran, tanaman sayuran diperlakukan sangat istimewa dengan banyaknya dibangun rumah kaca.

Oh, ya! satu hal lagi yang saya amati. Orang Jepang sangat hobby berjalan kaki. Kayaknya itu yang menyebabkan postur tubuh sebagai masyarakat Jepang jauh dari obesitas. Selain pola makan makanan sehat, kaya Omega3. Sekembalinya ke Jakarta, diet makanan Jepang sepertinya cocok untuk saya. Not a fancy and elegant art food, but kind of simple food (grilled fish and chicken or soup), with salad and dressing.

Hujan deras akhirnya saya rasakan pada hari-hari terakhir kunjungan kami di Tokyo. Yup! hujan dan angin kencang tepatnya menyambut kami di azasuka temple. Untungnya hanya sebentar dan saya dapat menikmati indahnya sunset di Odaiba, Tokyo. Kalau ditanya, suka gak ke Jepang? saya suka sekali…! bahkan saya ingin kembali mengunjungi Jepang di musim semi, supaya bisa menikmati indahnya sakura

(sumber : http://www.kompasiana.com/)