Kintakun-Collection.co.id- PERAYAAN hari suci Nyepi pada hakikatnya pengendalian diri yang terjabar dalam Catur Brata Panyepian yakni amati gni, amati lelungaan, amati lelanguan dan amati karya — tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bersenang-senang dan tidak bekerja. Apalagi ada kecenderungan dalam menyikapi hari raya termasuk Nyepi seringkali dijadikan ajang untuk ekspresi yang justru bertentangan dengan ajaran agama. Misalnya, perilaku bersenang-senang, berjudi dan mabuk-mabukan. Dalam kaitan itu adakah hal-hal khusus harus diperankan perempuan untuk ”mengamankan” pelaksanaan Nyepi secara ritual?

Nyepi Berita_wanita_Kintakun_collection | Mengajarkan Anak Puasa Saat Nyepi

Pengamat agama Hindu yang juga dosen STAHN Denpasar Made Budiasih menilai berhasil tidaknya perayaan Catur Brata Panyepian secara ideal juga tidak terlepas dari peran serta para ibu-ibu rumah tangga umat Hindu. Namun, sebetulnya yang paling menentukan adalah pribadi masing-masing. Nyepi sebagaimana hakikatnya, adalah pengendalian diri pengendalian hawa nafsu. Untuk bisa mengendalikan diri perlu latihan dan usaha yang jelas, misalnya dengan meditasi atau kegiatan yang berhubungan dengan spritual. Artinya, anak-anak kecil yang belum siap menjalankan Catur Brata Panyepian secara sempurna tidak mesti dipaksakan begitu saja.Dicontohkan tindakan yang mengarah kepada disiplin anak adalah puasa. Tetapi paling tidak pada saat Nyepi orangtua bisa menjabarkan hal itu lewat wejangan-wejangan yakni dengan cara memberikan saran kepada anak-anak supaya tidak asyik bermain-main, pergi keluar rumah dan membuat kegaduhan. Tindakan itu, merupakan upaya para wanita untuk memperkenalkan dan memahami hakikat Nyepi kepada anak-anak. Dari situ diharapkan ke depan seiring dengan peningkatan usia, pemahaman anak-anak tentang makna hari suci agama makin meningkat pula. Dengan makin memahami hakikat Nyepi diharapkan anak-anak akan melakukan ajaran agama itu dengan benar.

Menurut Budiasih, mempersiapkan menu masakan bagi anak-anak yang belum mampu melakukan puasa masih bisa. Namun, alangkah idealnya jika dalam keluarga semuanya siap berpuasa. Tentu, para ibu rumah tangga tidak mesti sibuk-sibuk membuat masakan, kecuali untuk kepentingan berbuka puasa sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.

Dikatakan, sesuai dengan hakikat Nyepi, umat diharapkan bisa memaknainya, sehingga secara perlahan ada perubahan dalam diri masing-masing, terutama dalam pengendalian diri sendiri dan ikut mengendalikan keluarga, agar tidak ribut di hari H-nya. ”Tidak saja saat Nyepi tetapi berkelanjutan. Oleh karena itu, ritual Nyepi mesti dijadikan tonggak untuk merefleksi, introspeksi dan mawas diri agar ke depan bisa lebih berkualitas,” ujarnya.

Dosen STAHN Denpasar Ni Putu Winanti mengatakan, menentukan terlaksana tidaknya Catur Brata Panyepian secara ideal. Namun dalam memberikan pemahaman tentang hakikat Nyepi kepada penerus umat Hindu (anak-anak), menurut Winanti, perlu waktu dan proses. Ibu-ibu tidak bisa memaksakan demikian rupa kepada anak-anak untuk melakukan puasa saat Nyepi. Tetapi, paling tidak ibu-ibu telah berupaya secara bertahap untuk memberikan pemahaman hakikat Nyepi kepada mereka.

Menurut Winanti, agar umat dapat melakukan catur brata secara baik, idealnya harus dimulai sejak dini. Artinya, anak-anak sejak kecil sudah mulai diperkenalkan nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan hari raya tersebut. Begitu pula lembaga tertinggi agama Hindu sebetulnya sangat berperan dalam hal ini.

Parisada mestinya bisa turun ke desa-desa untuk memberikan dharma wacana mengenai pemaknaan hari raya Nyepi, minimal menjelang parayaan hari suci tersebut. Pemberi dharma wacana ini jangan hanya pada istansi formal saja, tetapi langsung menyentuh kepentingan umat yang berada di tingkat bawah masuk ke desa-desa. Dengan demikian, masyarakat memiliki bekal dan dasar dalam menyikapi hari raya Tahun Baru Saka.

Dikatakan, kunci keberhasilan dalam melaksanakan Catur Brata Panyepian sepenuhnya berada di tangan pribadi masing-masing. Oleh karena itu, dari diri sendirilah memulai sehingga diikuti oleh keluarga, anak-anak dan pada akhirnya akan ditiru oleh tetangga di lingkungan masing-masing. ”Orangtua — bapak dan ibu — mesti bisa memberi contoh kepada anak-anaknya. Orangtualah yang memulai dan memberi contoh baik,” katanya.

Soal wanita menyiapkan menu masakan buat keluarga saat Nyepi, katanya, sebetulnya disesuaikan dengan keperluan anggota keluarga yang tidak mampu melakukan puasa. Tetapi sebetulnya menu masakan itu sudah disederhanakan dari nasi kukus dengan lauk-pauk yang beragam ke hal yang sangat sederhana seperti ketupat dengan lauknya yang hanya kacang-saurnya.

Ia mengatakan, toh menu yang dibuat itu untuk anggota keluarga yang tidak mampu berpuasa. Jadi, sebetulnya dalam agama tidak ada pemaksaan harus ini, harus itu. Semuanya berdasarkan kemampuan.

(sumber : http://pasektangkas.blogspot.co.id/)