Kintakun-collection.co.id – Nigel Farrow, seorang musisi rock heavy metal yang menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk berkeliling Australia dan menggelar konser. Di lain waktu, ia juga mengajar musik. Namun ketika putrinya terkena penyakit mematikan yang tak ada obatnya, ia pun memutuskan banting setir.

10 minggu setelah putrinya, Ella lahir, ia didiagnosis mengidap cystic fibrosis, suatu kelainan genetik yang menyebabkan organ internal, terutama paru-paru dan sistem pencernaan tersumbat lendir lengket dan tebal. Akibatnya, bisa timbul infeksi kronis dan radang.

Dalam keseharian, pasien cystic fibrosis memang tampak sehat meskipun mereka harus mengonsumsi kalori cukup banyak, minum obat dengan rutin, dan menjalani fisioterapi. Namun penyakit ini bersifat mematikan, dan sulit untuk disembuhkan.

Mendapati fakta itu, Nigel merasa dirinya sangat egois karena memutuskan untuk menjadi seorang musisi. “Mungkin jika saya melakukan hal yang berbeda, saya bisa membantunya,” keluh Nigel kepada Daily Mail Australia dan dikutip Selasa (14/7/2015).

Ia pun banting setir dengan mengambil kuliah di usia yang bisa dibilang terlambat, namun ia sempat kebingungan karena tak memiliki ijazah. “Saya tak pernah menyelesaikan sekolah, apalagi saya berasal dari keluarga petani yang tidak satu pun mengenyam bangku kuliah,” paparnya.

Beruntung bagi Nigel, ia menemukan bahwa Flinders University membuka sebuah kelas untuk mahasiswa yang tidak mempunyai ijazah SMA. Akan tetapi ia harus mengikuti sebuah tes untuk memastikan ia layak masuk.

“Saya memutuskan mengambil tes itu dan ternyata saya bisa masuk. Bahkan menerima surat yang menyatakan bahwa saya diterima rasanya sungguh luar biasa,” kenang Nigel.

Ia mengambil jurusan kedokteran, dan ketika memulai perkuliahan, pria bertato itu mengaku sempat menemui kesulitan. Belum lagi, ia dan istrinya, Karen harus mengurus Ella yang berjuang hidup dengan kondisinya. Padahal dengan kondisi Ella, salah satu dari mereka harus berhenti dari pekerjaan dan menjadi pengasuh utama bagi si kecil.

Namun di tahun kedua, hambatan ini perlahan dapat diatasi oleh Nigel. Dan sejak saat itu, ia bertekad mendedikasikan dirinya untuk menemukan obat bagi penderita cystic fibrosis. Keinginannya makin kuat, terutama setelah menemukan bahwa hanya ada dua lembaga riset yang mempelajari cystic fibrosis di dunia, dan salah satunya di Adelaide, tempat tinggalnya.

Kini pria berusia 45 tahun itu telah mengantongi dua gelar ilmu kedokteran, serta satu gelar PhD. Ia bahkan memimpin tim peneliti dari Adelaide Cystic Fibrosis Gene Therapy Research Group yang menjadi obsesinya beberapa waktu lalu. Lembaga riset ini memang melakukan berbagai studi tentang sel punca dalam rangka menemukan pengobatan utnuk cystic fibrosis.

Hingga 8 tahun berlalu, Dr Nigel masih berjibaku untuk menemukan obat tersebut, meskipun mereka terkendala dana. “Kami tak mendapatkan apapun dari pemerintah, dan sangat bergantung pada yayasan amal dan donasi dari orang asing,” tandasnya.

Keadaan ini justru ‘memaksa’ Nigel untuk tetap berjuang menemukan obat itu. “Saya baru akan berhenti jika sudah ada obatnya,” tekadnya.

Demi buah hati, apapun akan orang tua lakukan. Nigel merupakan sosok ayah yang membuktikan hal tersebut. Semoga apa yang dilakukannya dapat menambah semangat para orang tua dalam menjaga dan menyayangi buah hati mereka ya gLadies.

 

(Sumber: Detik.com)