Kintakun-collection.co.id – Juan Mallol Pibernat, seorang pelukis asal Spanyol yang berusia 70-an tahun didiagnosis mengidap parkinson. Namun kemampuan melukisnya tetap terjaga, bahkan ketika ia mengalami cedera dan terpaksa harus melukis dengan tangan kirinya. Padahal pasien parkinson biasanya kesulitan mengendalikan gerakan tangannya. Parkinson menyebabkan hilangnya sel, terutama di bagian yang mengendalikan pergerakan otot. Gejalanya antara lain tremor, menurunnya keseimbangan dan koordinasi, serta anggota gerak yang terasa kaku.

Hingga suatu ketika, Mallol Pibernat kehilangan keseimbangan saat membawa salah satu hasil karyanya. Namun karena tak lukisannya rusak, ia terjatuh dengan posisi tangan kanan mengenai lantai terlebih dahulu. Akibatnya, tangan kanannya patah. Dokter kemudian memasangkan gips di tangan pria kelahiran Barcelona itu 40 hari lamanya.

Kendati begitu, ia tetap melukis, sebab ia tak ingin mengecewakan klien-kliennya. Tak ambil pusing, Mallol Pibernat menggunakan tangan kirinya untuk melukis. Padahal pria ini lebih dominan memakai tangan kanan, dan tangan kirinya pun tidak terlatih.

Selama lima minggu, Mallol Pibernat tetap bisa melukis dengan tangan kirinya, dan kualitas lukisannya pun ‘tidak jauh berbeda dengan lukisan yang dibuat tangan kanannya’.

Yang dialami pelukis ini menarik perhatian peneliti dari Medisch Spectrum Twente Hospital, Belanda, yakni Dr Kuan Kho. Sebab melukis dengan tangan yang tidak dominan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang struktur otaknya tidak terganggu seperti pada pasien Parkinson, sedangkan Mallol Pibernat tidak mengalami masalah berarti.

“Jangan pasien Parkinson, orang sehat yang diharuskan melukis dengan tangan non-dominan biasanya akan kesulitan,” ungkap Dr Kho, seperti dikutip dari Livescience, Selasa (14/7/2015).

Ahli bedah saraf itu kemudian mengangkat kasus unik dari Mallol Pibernat ke dalam jurnal Neurocase: The Neural Basis of Cognition. Dr Kho menambahkan, keunikan kasus Mallol Pibernot bukan hanya penggunaan tangan kirinya, tetapi juga kemampuannya ‘mentransfer’ skill yang dimiliki tangan kanannya ke tangan kirinya.

“Kami menyebutnya ‘intermanual transfer’, dan banyak studi mengatakan sebagian orang tak perlu belajar skill baru dari nol jika salah satu tangan sudah belajar duluan, bahkan kadang penguasaan skill-nya jadi lebih cepat karena hal ini,” terangnya.

Hanya saja, sekali lagi, pasien Parkinson juga mengalami gangguan di bagian otak yang berperan dalam ‘intermanual transfer’ ini. Disinilah Dr Kho merasa kebingungan. “Memang ada kemungkinan ‘intermanual transfer’ ini terjadi dengan memanfaatkan struktur otak lain yang tidak terkena Parkinson, dan ini artinya Parkison memang tidak menyerang seluruh struktur otak Mallol Pibernat,” katanya.

Kemungkinan kedua, obat-obatan yang dikonsumsi Mallol Pibernat selama ini telah mengembalikan aktivitas saraf pada otaknya, terutama di bagian ‘supplementary motor area’ yang bertanggung jawab terhadap munculnya ‘intermanual transfer’.

Dr Kho menambahkan, setelah 40 hari, Mallol Pibernat dinyatakan sembuh dari patah tulang dan kini bisa melukis dengan tangan kanannya kembali.

(Sumber: Detik.com)