Kintakun-collection.co.id – Hari ini, 10 Desember, setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia Sedunia. Peringatan Hari HAM Sedunia dilakukan oleh negara dan organisasi yang peduli HAM. Peringatan ini sering dijadikan momentum untuk melakukan koreksi pelaksanaan HAM di masing-masing negara.

Penetapan tanggal 10 Desember sebagai Hari Hak Asasi Manusia mengacu pada tanggal pengesahan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration on Human Rights) 10 December 1948 di, Paris.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) merupakan saripati dari pengalaman pahit Perang Dunia Kedua dan merepresentasikan eksresi global pertama atas hak yang secara inheren melekat pada setiap individu manusia.

DUHAM dirancang John Peters Humphrey, seorang pembela hak asasi manusia sekaligus anggota Komisi Hak Asasi Manusia PBB. Selain John Humphrey, tokoh-tokoh yang berjasa dalam perumusan DUHAM adalah Eleanor Roosevelt dari Amerika Serikat, Jacques Maritain dan Rene Cassin dari Perancis, Charles Malik dari Lebanon, dan PC Chang dari China.

DUHAM terdiri dari 30 pasal yang telah dielaborasi dan diturunkan ke dalam berbagai perjanjian internasional, instrumen-instrumen regional hak asasi manusia, serta konstitusi dan hukum nasional. DUHAM merupakan komitmen yang tidak mengikat (non-binding), yakni penerapannya bergantung pada kemauan politik (political will ) negara-negara anggota PBB yang sudah menandatangani dan meratifikasi deklarasi tersebut.

Indonesia merupakan satu dari sekian negara yang telah meratifikasi Deklarasi HAM. Hak Asasi Manusia dimasukkan dalam konstitusi negara melalui Undang-Undang Dasar 1945 amandemen ke-2, Bab XA pasal 28A. Kemudian dikuatkan dengan Undang-Undang No. 39/1999 tentang HAM.

Saat ini HAM telah menjadi standar norma internasional untuk melindungi setiap manusia dari setiap tindakan, baik secara politik, hukum dan sosial yang melanggar hak seseorang. Acuan utama dalam HAM adalah Deklarasi Hak Asasi Manusia.