Kintakun-collection.co.id – Hari ini 3 November 2014, adalah Peringatan Hari Penyandang Disabilitas atau dikenal sebagai Hari Difabel Internasional.

Majelis Umum PBB melalui Resolusi Nomor 47/3, menetapkan 3 Desember sebagai Hari Difabel Internasional untuk meningkatkan kesadaran dan melaksanakan upaya-upaya pemberian kesempatan yang sama kepada penyandang cacat dibanding warga lain.

Di Indonesia, undang-undang No. 4 tahun 1997 menegaskan bahwa penyandang cacat merupakan bagian masyarakat Indonesia yang juga memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan peran yang sama. Mereka juga mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.

Difabel merupakan singkatan dari Different Abled People. Istilah yang mulai digunakan di Indonesia pada 1999 itu berarti orang dengan kemampuan berbeda. Difabel adalah orang-orang yang menjalankan aktivitas hidup dengan kondisi fisik dan atau mental yang berbeda dengan orang kebanyakan. Kondisi ini bisa merupakan bawaan sejak lahir ataupun muncul saat dewasa, seperti akibat dari penyakit, malnutrisi, kecelakaan, penganiayaan, atau sebab-sebab lain sehingga menyebabkan cacat fisik dan atau mental. Difabel merupakan istilah baru pengganti sebutan penyandang cacat yang selama ini banyak digunakan. Tujuan penggunaan istilah ini adalah untuk menekankan bahwa mereka berbeda namun bukan berarti tak berdaya.

Di Indonesia, kaum difabel dibagi menjadi tuna netra (buta), tuna rungu (tuli), tuna wicara (bisu), tuna daksa (tidak memiliki tangan dan/atau kaki), tuna laras ( kelainan perilaku), tuna grahita (kelainan mental) serta tuna ganda. Jumlah kaum difabel di dunia pun sesungguhnya sangatlah banyak.

Mengapa isu tentang komunitas difabel ini penting? Bahkan bagi orang yang tidak cacat sekalipun. Karena saat ini memang diperlukan proses menggugah kesadaran serta mengembangkan masyarakat yang saling menolong, mengaktualisasikan kembali kolektivitas dan struktur keramahan, yang ironisnya mulai berkurang belakangan ini.