Kintakun-collection.co.id – Hari ini, 14 oktober 2014, “Panji Koming” genap berusia 35 tahun. gLadies pasti tahu dong dengan comic strip “Panji Koming” karya Dwi Koendoro yang melegenda dan selalu menghiasi halaman surat kabar Kompas edisi Minggu. “Panji Koming” terus bertahan dengan kritikan dan perlawanannya terhadap kekuasaan.

Panji Koming secara berkala diterbitkan di surat kabar Kompas edisi Minggu sejak 14 Oktober 1979. Judul comic strip ini berasal dari nama tokoh utamanya, Panji Koming, yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit. Selain singkatan ‘Kompas Minggu’, Koming juga berarti ‘bingung’ atau ‘gila’.

Meskipun mengambil setting masa lalu, kasus yang diangkat selalu konsisten membahas geliat dunia sosial politik di Indonesia dengan berbagai lika-likunya yang unik. Sering kali dikaitkan dengan hal-hal aktual yang terjadi di Indonesia masa kini dengan sangat cerdas, karena mampu membahas dengan sentilan komedi dan visualisasi yang kreatif .

Comic strip ini ditulis oleh Dwi Koendoro, meskipun kadang-kadang dikerjakan oleh putranya, dan diciptakan oleh Dwi Koendoro atas saran kartunis G.M. Sudharta.  Tokoh Panji Koming adalah seorang pemuda kelas menengah bawah yang memiliki karakter lugu dan agak peragu. Ia memiliki pacar yang bernama Ni Woro Ciblon yang cantik, pendiam dan sabar.

Dalam kehidupan sehari-hari, Panji Koming memiliki kawan setia bernama Pailul yang agak konyol namun lebih terbuka dan berani bertindak. Kekasih Pailul adalah Ni Dyah Gembili, perempuan gemuk yang selalu bicara terus terang.   Tokoh protagonis lain adalah Mbah, seorang ahli nujum yang sering ditanya mengenai masalah-masalah spiritual serta seekor anjing buduk yang dijuluki Kirik, dalam bahasa Jawa berarti anak anjing .

Tokoh antagonis yang sering kali menjadi objek lelucon adalah seorang birokrat gila jabatan yang bernama Denmas Arya Kendor.